Pages

Kamis, 07 Juni 2012

Laporan Arus Kas: Tiga Hal Mendasar Yang Perlu Diketahui


Sebagai salah satu produk utama proses akuntansi, kehadiran Laporan Arus Kas (cash flow statementtak kalah pentingnya dibandingkan dengan jenis laporan keuangan lainnya. Dengan membaca laporan arus kas, pihak-pihak yang berkepentingan—terutama pihak luar perusahaan (investor, kreditur, otoritas pajak)—bisa mengetahui posisi kas perusahaan dengan lebih rinci dan menilai kelogisan hubungan saldo kas di Neraca dengan posisi laba/rugi pada Laporan Laba-rugi. Hal-hal mendasar apa saja yang perlu diketahui mengenai laporan arus kas? Itulah yang akan saya bahas melalui tulisan ini.
Berikut adalah tiga hal paling mendasar yang perlu diketahui mengenai laporan arus kas (cash flow statement)

Hal-1. Laporan Arus Kas dan Fungsi Dasarnya

Jika saya ditanya “apa itu laporan arus kas?” biasanya saya jawab dengan:
[quote]“Laporan Arus Kas adalah Laporan yang memuat informasi mengenai aliran kas”[/quote]
Terdengar seperti definisi yang dibuat oleh anak SD ya? Hahaha… Kenyataannya yang ada di otak saya memang sesederhana itu koq, mosoq dibikin ruet hehe…
Lho, itu menurut PSAK/IAS/IFRS nomor berapa?” mungkin ada yang bertanya seperti itu.
Buat saya, yang penting esensinya dipahami terlebih dahulu. Perkara definisi ilmiah untuk kepentingan riset atau penelitian, silahkan baca PSAK di websitenya IAI, atau IFRS di website-websitenya kantor akuntan publik besar macam PWC, KPMG, Ernst & Young Tomatshu, atau Delloite. Monggo baca di sana.
Selanjutnya, fungsi dasar laporan arus kas… lanjut…
Di masa lalu, saat sistem akuntansi masih berbasis kas (cash-basis), bahkan laporan kas mendominasi yang lainnya. Kini, ketika cash basis sudah ditinggalkanpun, laporan arus kas masih tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari satu paket laporan keuanganMengapa?
Seseorang yang dalam kesehariannya banyak berkutat dengan Laporan Keuangan akan sering menemukan 2 kejanggalan berikut ini:
  • Di Laporan Laba-Rugi perusahaan melaporkan LABA yang TINGGI, tetapi SALDO KAS di Neraca kelihatan RENDAH. Yang artinya, perusahaan tidak akan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya (bayar vendor telat-telat, gajian yang mestinya awal bulan diundur hingga tanggal 7, tidak bagi dividend, dll); atau
  • Di Laporan Laba-Rugi perusahaan melaporkan LABA yang RENDAH (bahkan mungkin rugi), tetapi SALDO KAS di Neraca kelihatan TINGGI. Yang artinya, perusahaan memiliki kas yang melimpah tetapi membukukan rugi. Hal ini sering menjadi tanda tanya bagi pemegang saham. Manajemen begitu jor-joran dalam mengeluarkan kas untuk vendor, tetapi tidak ada laba sehingga otomatis tidak ada dividend yang dibagi untuk mereka.
Tanpa melihat laporan arus kas, seseorang tidak akan pernah tahu mengapa kejanggalan-kejanggalan seperti itu bisa terjadi. Sehingga, bisa dibilang:
[quote]Fungsi dasar Laporan Arus Kas: Sebagai alat verifikasi (cross-check) untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan posisi kas, sekaligus sebagai alat untuk menilai kelogisan hubungan saldo kas di Neraca dengan posisi laba/rugi pada Laporan Laba-rugi.[/quote]
Diantara banyaknya kemungkinan pertanyaan yang diajukan oleh pembaca laporan keuangan mengenai laporan arus kas, ada 2 yang paling sering muncul, yaitu:
(a) Mengapa saldo kas begitu rendah atau begitu tinggi?; atau
(b) Dari mana kas berasal dan untuk kegiatan apa saja kas dialokasikan?

Hal-2. Tiga Kategori Aliran Kas Dalam Laporan Arus Kas

Untuk bisa menjadi alat cross-check yang efektif sekaligus mampu menjawab berbagai pertanyaan sehubungan dengan posisi kas, Laporan Arus Kas menyajikan informasi aliran kas dengan cara mengelompokannya menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Arus Kas Dari Aktivitas Operasional (Cash Flows From Operating Activities) – Bagian pertama Laporan Arus Kas berisi informasi mengenai aliran kas (masuk maupun keluar) yang berhubungan dengan aktivitas opersional perusahaan. Dengan kata lain, aliran arus kas yang tidak berhubungan dengan aktivitas investasi maupun pembiayaan yang akan saya sampaikan setelah ini.
Contoh aliras KAS MASUK dalam kategori ini antara lain:
  • Kas yang diterima dari transkasi penjualan
  • Kas yang diterima dari tagihan piutang dagang dan bentuk piutang jangka pendek lainnya
  • Kas yang diterima berupa bunga pendapatan maupun dividen
Contoh aliran KAS KELUAR dalam kategori ini antara lain:
  • Pembayaran ke supplier/vendor
  • Pembayaran bunga
  • Pembayaran Gaji pegawai dan upah buruh
  • Pembelian persediaan
  • Pembayaran Pajak
2. Arus Kas Dari Aktivitas Investasi (Cash Flows From Investing Activities) – Bagian kedua dari laporan arus kas memuat informasi mengenai aliran kas (baik masuk maupun keluar) yang berhubungan dengan aktivitas investasi yang dilakukan oleh perusahaan.
Contoh aliran KAS MASUK dalam kategori ini:
  • Kas yang diterima dari pembayaran pokok cicilan oleh perusahaan lain
  • Kas yang diterima dari hasil penjualan aktiva tetap perusahaan
  • Kas yang diterima dari hasil penjualan instrument sekuritas pada perusahaan lain
Contoh aliran KAS KELUAR dalam kategori ini:
  • Pembelian (atau perolehan) aktiva tetap baik berwujud maupun tak berwujud.
  • Pinjaman yang diberikan kepada perusahaan lain
  • Pembelian instrument sekuritas pada perusahaan lain
3. Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan (Cash Flow From Financing Activities) – Bagian ketiga (yang terakhir) dari Laporan Arus Kas menyajikan informasi aliras kas (baik masuk maupun keluar) yang berhubungan dengan aktivitas pembiayaan.
Contoh aliran KAS MASUK dalam kategori ini:
  • Kas yang diterima dari hasil penerbitan bond/promes dan bentuk hutang berjangka sejenis
  • Kas yang diterima dari hasil penjualan saham perusahaan sendiri
Contoh aliran KAS KELUAR dalam kategori ini:
  • Pembayaran untuk Bond/promes yang pernah diterbitkan dan tekah jatuh tempo.
  • Pengeluaran biaya-biaya sehubungan dengan penerbitan bond/promes
  • Pembayaran dividend kepada pemegang saham
  • Pembelian kembali saham yang pernah diterbitkan sebelumnya

Hal-3. Format Laporan Arus Kas

Ketiga kategori aliran kas dalam Laporan Arus Kas biasanya disajikan dalam satu halaman laporan. Tidak ada bentuk atau format baku yang harus diikuti oleh semua perusahaan dalam penyajian laporan arus kasnya. Dalam pengertian: asalkan inforamsi yang disajikan telah dikelompokan menjadi 3 kategori (seperti penjelasan tadi), tingkat kerincian (detail) laporan bukan masalah.
Yang paling penting: Laporan Arus Kas harus bisa menjadi alat cross-check yang efektif  yang pada akhirnya bisa menjawab berbagai pertanyaan sehubungan dengan aliran kas perusahaan (baik yang masuk maupun yang keluar).
Untuk keperluan ilmiah dan riset, saya menganjurkan untuk mencari contoh laporan arus yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah berstatus go-public, yang tentunya hanya akan diterbitkan ke publik bila sudah memperoleh persetujuan dari BAPPEPAM.
Sekedar sharing, untuk pihak luar biasanya saya menggunakan laporan arus kas dengan format seperti di bawah. Dengan membaca laporan ini, pihak luar perusahaan bisa melihat dengan jelas darimana saja datangnya kas masuk dan untuk aktivitas apa saja kas tersebut dialokasikan.

Khusus untuk pihak manajemen (yang ada di dalam) perusahaan, format laporan di atas biasanya saya tambahi bagian khusus di ujung bawah laporan. Bagian tersebut berupa rekonsilasi pendapatan bersih (Laporan Laba-Rugi) terhadap kas bersih yang masuk dan keluar pada arus kas yang berhubungan dengan aktivitas operasional. Persisnya, bisa dilihat pada contoh berikut ini:

Tambahan informasi ini, menurut saya pribadi, sangat bermanfaat karena bisa menjelaskan degan gamblang mengenai pengaruh transaksi-transaksi non-kas (misal: penyusutan dan transaksi akrual) terhadap arus kas bersih yang berhubungan dengan aktivitas operasional perusahaan. Bisa dibilang, tambahan ini merupakan penjelasan lebih rinci arus kas dari aktivitas opersional.
Nah itu tiga hal paling mendasar yang perlu diketahui mengenai laporan arus kas. Sedangkan hal-hal yang sifatnya lebih advance (misalnya: pengecualian laporan arus kas, perlakuan transaksi mata uang asing dan penyajiannya dalam laporan arus kas, laporan arus kas konsolidasi dari perusahaan anak dan cabang), jika ada kesempatan akan saya bahas di tulisan-tulisan mendatang. Namun sebelum itu, dalam waktu dekat ini, saya akan bahas mengenai cara membuat laporan arus kas dengan metode langsung (direct method) dan tak langsung (indirect method).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar